Dari Linggi Menuju Pengabdian di Ujung Barat Daya Sumba
Mawadda Rahmah memulai langkah pendidikannya dari tempat yang sederhana, SD Negeri Linggi. Di sekolah dasar itulah ia pertama kali mengenal dunia belajar, ruang kelas yang mungkin tak selalu sempurna, tetapi penuh makna. Dari bangku kayu dan papan tulis sederhana, tumbuh rasa ingin tahu dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan perubahan. Guru-guru di SD Negeri Linggi menjadi teladan awal yang menanamkan nilai ketekunan, disiplin, dan kepedulian terhadap sesama.
Perjalanan pendidikannya berlanjut ke jenjang berikutnya. Di setiap tahap sekolah, Mawadda Rahmah tidak hanya belajar tentang pelajaran, tetapi juga tentang kehidupan: tentang keterbatasan, perjuangan, dan mimpi yang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Kesadaran akan pentingnya pendidikan, terutama bagi anak-anak di daerah yang jauh dari pusat pembangunan, perlahan membentuk cita-citanya untuk menjadi seorang pendidik.
Keputusan untuk menempuh pendidikan keguruan bukanlah pilihan yang mudah, tetapi lahir dari panggilan hati dan harus bersaing dengan puluhan siswa berprestasi lainnya dari Kab. Simeulue untuk Program Pendidikan Guru Terintegritas (PPGT) Angkatan I di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Mawadda Rahmah memahami bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan pengabdian. Ia membekali diri dengan ilmu, karakter, dan semangat melayani, meyakini bahwa ilmu yang dimiliki harus kembali kepada masyarakat, terutama mereka yang paling membutuhkan.
Puncak dari perjalanan idealismenya terwujud ketika Mawadda Rahmah lulus menjadi ASN Guru Garis Depan (GGD) dan ditempatkan di SD Negeri Kalogha, Kecamatan Kodi Balaghar, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Penugasan ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan lompatan pengabdian, meninggalkan kenyamanan untuk hadir di wilayah yang menantang secara akses, fasilitas, dan kondisi sosial.
Di SD Negeri Kalogha, Mawadda Rahmah hadir sebagai guru sekaligus sahabat bagi murid-muridnya. Ia belajar memahami budaya setempat, menjalin relasi dengan masyarakat, dan mengajar dengan ketulusan di tengah keterbatasan. Setiap langkahnya di ruang kelas adalah wujud nyata komitmen untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dimulai dari pinggiran negeri.
Perjalanan dari SD Negeri Linggi di Simeulue, Aceh hingga menjadi Guru Garis Depan di Kodi Balaghar adalah kisah tentang konsistensi mimpi, keberanian memilih jalan sunyi, dan kesediaan mengabdi tanpa pamrih. Mawadda Rahmah membuktikan bahwa pendidikan bukan soal seberapa jauh seseorang pergi untuk belajar, tetapi seberapa tulus ia kembali untuk berbagi.
# Dari Linggi Menuju Pengabdian di Ujung Barat Daya Sumba
Agen234
Agen234
Agen234
Berita Terkini
Artikel Terbaru
Berita Terbaru
Penerbangan
Berita Politik
Berita Politik
Software
Software Download
Download Aplikasi
Berita Terkini
News
Jasa PBN
Jasa Artikel
News
Breaking News
Berita